Sore itu terasa sangat
melelahkan untuknya. Tugas sekolah dan kegiatan disekolah membuatnya lelah,
ditambah dengan les diluar sekolah. Tiba-tiba handphonenya berdering, dia
berharap itu pesan dari kekasihnya Istna. “Sayang gimana sekolah kamu? Jangan
sampai sakit ya J “ singkat namun membuat lelahnya tidak
begitu terasa. Dia senang Istna selalu mengkhawatirkannya.
Ryan mengenal Istna
ketika saat itu dia SMA kelas 12. Sekarang mereka berdua kuliah di Jogja, namun
berbeda kampus. Istna di Amikom dan Ryan di UPN. Ryan dan Istna lahir dari
latar belakang yang jauh berbeda, Ryan dari keluarga kurang mampu, dan Istna keluarga yang kaya raya.
Sudah 3 tahun mereka
berpacaran. Banyak pengalaman yang meraka lalui, hal yang paling berkesan yang
Ryan lakukan adalah ketika Ryan memberikan bunga disetiap tanggal jadiannya.
Sudah lebih dari 20 bunga ada dikamar Istna, Istna selalu menyimpannya dengan
baik. Disetiap bunga tersebut Ryan telah menuliskan semua harapan yang dia
peruntukan untuk Istna.
Malam itu tepatnya
ketika hujan deras, tiba-tiba ada yang mengetuk jenedela kamar Istna, ternyata
Ryan. “ Ada apa malam-malam hujan seperti ini kamu kerumah? Kamu sedang apa
diluar sana hujan kan? “
Ryan diam dan
menjawabnya dengan senyuman “ Istna sayang,
besok aku akan pergi untuk sekolah di Jakarta karna aku mendapat
beasiswa, aku harap kamu tidak sedih dan bisa menerima ini semua. Aku pasti
pulang secepatnya”
Istna hanya terdiam,
sambil menahan air mata yang tidak kuasa dia tahan lagi. “Sayang kenapa kamu menangis
?” ucap Ryan.
“Ga sayang, aku senang
kamu bisa menggapai cita-citamu disana, aku pasti nunggu kamu” jawab Istna. Sebelum
Ryan pergi , Ryan memberikan 2vbunga terakhir sebelum kepergiannya ke luar
kota.
“Maaf mungkin ini
terlalu cepat, tapi aku pasti pulang “ ucap Ryan.
Keesokan harinya Istna
menghubungi Ryan, namun handphonenya tidak aktif. Istna sangat khawatir, karna
rasa khawatir itu Istna segera pergi menemui Ryan dirumahnya dengan harapan
Ryan dalam keadaan baik-baik saja .
Saat dia mengetuk pintu
rumah Ryan, ada suara langkah dengan terburu-buru menghampiri suara ketukan
itu. Istna berpikir itu Ryan, namun dugaannya salah, itu adalah pembantu Ryan.
“Bi, Ryan ada di rumah?
Seharian aku hubungi dia tidak aktif” ucap Istna. “ Den Ryan sudah pergi ke
Jakarta non, tadi baru saja den Ryan pergi” jawab Bibi.
Istna sangat sedih Ryan
tidak menghubunginya, apalagi dia tidak berpamitan langsung dengannya. Istna
pulang dengan rasa kecewa.
Setelah 1 tahun
berlalu, Istna masih saja menunggu kepulangan Ryan, namun Ryan tidak kunjung
pulang. Istna sangat merindukan dan mencintai Ryan sampai dia rela menunggu
Ryan yang tak kunjung memberikan kabar.
Tepat di hari ulang
tahunnya yang ke 23 Istna dikejutkan dengan kedatangan Ryan. Istna memeluk Ryan
dengan eratnya.
“Istna sayang maafkan
aku, aku tidak pernah menghubungimu” ucap Ryan.
“Ya sayang ga apa-apa,
aku slalu sabar nunggu kamu , aku yakin kamu pasti pulang.”
Disela-sela
pembicaraan, Ryan memberikan bunga yang sama yang sering dia berikan pada
Istna, itu adalah bunga ke 23 yang Ryan berikan. Ketika memberikan bunga itu
Ryan berkata , “Istna, ini bunga yang biasa aku berikan disetiap hari jadian
kita, dan ini bunga ke 23. Dalam bunga ini aku mengharapkan adanya kejujuran
dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan
segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan
sampai Tuhan memanggil kita berdua”
Saat
mendengar Ryan berkata demikian, menangislah Istna. Ia berkata kepada Ryan :
“Ryan,
bahagia aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk
tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang
tuaku!”
Saat mendengar itu Ryan sangat kecewa. Ia kemudian
mulai marah kepada Istna. Ia mengatai Istna matre, orang tak berperasaan, kejam,
dan sebagainya. “Aku memang tidak pernah memberimu kabar , tapi aku disana
sekolah untuk mencapai cita-citaku dan untuk melamarmu, tapi apa yang aku
dapatkan sekarang?” Dan Akhirnya Ryan meninggalkan Istna menangis seorang diri.
Ryan
mulai terbakar semangatnya.Dia pun bertekad dalam dirinya bahwa dia harus
sukses dan hidup berhasil. Sikap Istna dijadikannya cambuk untuk maju dan maju.
Ryan berusaha membuka usaha. Dalam sebulan usaha Ryan menunjukkan hasilnya. Dia
menjadi orang yang sukses saat itu, dengan kesuksesannya sekarang dia yakin
akan mendapatkan semuanya yang dia mau.
Suatu
hari Ryan berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dia melihat sepasang
suami-istri tua tengah berjalan di tengah derasnya hujan. Suami istri itu
kelihatan lusuh dan tidak terawat. Ryan pun penasaran dan mendekati suami istri
itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua
Istna.
Ryan
mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati
nuraninya melarangnya sangat kuat. Ryan membatalkan niatnya dan ia membuntuti
kemana perginya orang tua Istna.
Ryan sangat terkejut ketika mendapati orang tua
Istna memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang sering dia
berikan pada Istna. Dia pun semakin
terkejut ketika dia mendapati foto Istna dalam makam itu. Ryan pun bergegas
turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam Istna untuk menumi orang tua
Istna.
Orang
tua Istna hanya bisa menangis dan berkata ; “Nak Ryan, sekarang kami jatuh
miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan Istna yang terkena kanker otak.
Istna menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami
bertemu denganmu.”
Orang tua Istna menyerahkan sepucuk surat kumal
kepada Ryan. Ryan dengan penasaran membaca surat itu.
“Ryan, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena
kanker otak ganas yang tak mungkin
disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku
lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam keterpurukan yang penuh keputus-asaan
yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua niat baikmu Ryan,
karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Ryan………..Semoga kamu mau
memaafkanku”.
Setelah membaca surat itu, Ryan menagis dan
menyesal. Dia telah berprasangka terhadap Istna begitu kejamnya. Dia pun mulai
merasakan betapa hati Istna teriris-iris ketika dia mencemoohnya, mengatainya
matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa Istna kesepian seorang
diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa Istna mengharapkan kehadirannya
di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap
Istna sebagai orang matre tak berperasan. Istna telah berkorban untuknya
agar dia tidak jatuh dalam keputusasaan
dan kehancuran.
Kini hampir setiap hari sepulang bekerja Ryan
datang kemakam Istna, dengan harapan Istna mau memaafkannya.
Terkadang cinta itu membutakan semuanya, Ryan sadar cinta
ada di setiap tetes air matanya dan cinta melebur di dalam senyum dan tawanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar