Senin, 10 Desember 2012

Bunga itu


Sore itu terasa sangat melelahkan untuknya. Tugas sekolah dan kegiatan disekolah membuatnya lelah, ditambah dengan les diluar sekolah. Tiba-tiba handphonenya berdering, dia berharap itu pesan dari kekasihnya Istna. “Sayang gimana sekolah kamu? Jangan sampai sakit ya J “ singkat namun membuat lelahnya tidak begitu terasa. Dia senang Istna selalu mengkhawatirkannya.
Ryan mengenal Istna ketika saat itu dia SMA kelas 12. Sekarang mereka berdua kuliah di Jogja, namun berbeda kampus. Istna di Amikom dan Ryan di UPN. Ryan dan Istna lahir dari latar belakang yang jauh berbeda, Ryan dari keluarga kurang mampu, dan  Istna keluarga yang kaya raya.
Sudah 3 tahun mereka berpacaran. Banyak pengalaman yang meraka lalui, hal yang paling berkesan yang Ryan lakukan adalah ketika Ryan memberikan bunga disetiap tanggal jadiannya. Sudah lebih dari 20 bunga ada dikamar Istna, Istna selalu menyimpannya dengan baik. Disetiap bunga tersebut Ryan telah menuliskan semua harapan yang dia peruntukan untuk Istna.
Malam itu tepatnya ketika hujan deras, tiba-tiba ada yang mengetuk jenedela kamar Istna, ternyata Ryan. “ Ada apa malam-malam hujan seperti ini kamu kerumah? Kamu sedang apa diluar sana hujan kan? “
Ryan diam dan menjawabnya dengan senyuman “ Istna sayang,  besok aku akan pergi untuk sekolah di Jakarta karna aku mendapat beasiswa, aku harap kamu tidak sedih dan bisa menerima ini semua. Aku pasti pulang secepatnya”
Istna hanya terdiam, sambil menahan air mata yang tidak kuasa dia tahan lagi. “Sayang kenapa kamu menangis ?” ucap Ryan.
“Ga sayang, aku senang kamu bisa menggapai cita-citamu disana, aku pasti nunggu kamu” jawab Istna. Sebelum Ryan pergi , Ryan memberikan 2vbunga terakhir sebelum kepergiannya ke luar kota.
“Maaf mungkin ini terlalu cepat, tapi aku pasti pulang “ ucap Ryan.
Keesokan harinya Istna menghubungi Ryan, namun handphonenya tidak aktif. Istna sangat khawatir, karna rasa khawatir itu Istna segera pergi menemui Ryan dirumahnya dengan harapan Ryan dalam keadaan baik-baik saja .
Saat dia mengetuk pintu rumah Ryan, ada suara langkah dengan terburu-buru menghampiri suara ketukan itu. Istna berpikir itu Ryan, namun dugaannya salah, itu adalah pembantu Ryan.
“Bi, Ryan ada di rumah? Seharian aku hubungi dia tidak aktif” ucap Istna. “ Den Ryan sudah pergi ke Jakarta non, tadi baru saja den Ryan pergi” jawab Bibi.
Istna sangat sedih Ryan tidak menghubunginya, apalagi dia tidak berpamitan langsung dengannya. Istna pulang dengan rasa kecewa.
Setelah 1 tahun berlalu, Istna masih saja menunggu kepulangan Ryan, namun Ryan tidak kunjung pulang. Istna sangat merindukan dan mencintai Ryan sampai dia rela menunggu Ryan yang tak kunjung memberikan kabar.
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke 23 Istna dikejutkan dengan kedatangan Ryan. Istna memeluk Ryan dengan eratnya.
“Istna sayang maafkan aku, aku tidak pernah menghubungimu” ucap Ryan.
“Ya sayang ga apa-apa, aku slalu sabar nunggu kamu , aku yakin kamu pasti pulang.”
Disela-sela pembicaraan, Ryan memberikan bunga yang sama yang sering dia berikan pada Istna, itu adalah bunga ke 23 yang Ryan berikan. Ketika memberikan bunga itu Ryan berkata , “Istna, ini bunga yang biasa aku berikan disetiap hari jadian kita, dan ini bunga ke 23. Dalam bunga ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua”
Saat mendengar Ryan berkata demikian, menangislah Istna. Ia berkata kepada Ryan :
“Ryan, bahagia aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!”
Saat mendengar itu Ryan sangat kecewa. Ia kemudian mulai marah kepada Istna. Ia mengatai Istna matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. “Aku memang tidak pernah memberimu kabar , tapi aku disana sekolah untuk mencapai cita-citaku dan untuk melamarmu, tapi apa yang aku dapatkan sekarang?” Dan Akhirnya Ryan meninggalkan Istna menangis seorang diri.
Ryan mulai terbakar semangatnya.Dia pun bertekad dalam dirinya bahwa dia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap Istna dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Ryan berusaha membuka usaha. Dalam sebulan usaha Ryan menunjukkan hasilnya. Dia menjadi orang yang sukses saat itu, dengan kesuksesannya sekarang dia yakin akan mendapatkan semuanya yang dia mau.

Suatu hari Ryan berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dia melihat sepasang suami-istri tua tengah berjalan di tengah derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Ryan pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua Istna.
Ryan mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Ryan membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua Istna.
Ryan sangat terkejut ketika mendapati orang tua Istna memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang sering dia berikan pada Istna.  Dia pun semakin terkejut ketika dia mendapati foto Istna dalam makam itu. Ryan pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam Istna untuk menumi orang tua Istna.
Orang tua Istna hanya bisa menangis dan berkata ; “Nak Ryan, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan Istna yang terkena kanker otak. Istna menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.”
Orang tua Istna menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Ryan. Ryan dengan penasaran membaca surat itu.
“Ryan, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker otak  ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam keterpurukan yang penuh keputus-asaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua niat baikmu Ryan, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Ryan………..Semoga kamu mau memaafkanku”.
Setelah membaca surat itu, Ryan menagis dan menyesal. Dia telah berprasangka terhadap Istna begitu kejamnya. Dia pun mulai merasakan betapa hati Istna teriris-iris ketika dia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa Istna kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa Istna mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap Istna sebagai orang matre tak berperasan. Istna telah berkorban untuknya agar  dia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.
Kini hampir setiap hari sepulang bekerja Ryan datang kemakam Istna, dengan harapan Istna mau memaafkannya.
Terkadang cinta itu membutakan semuanya, Ryan sadar cinta ada di setiap tetes air matanya dan cinta melebur di dalam senyum dan tawanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar